Bergabung dengan komunitas kami untuk terhubung dengan orang-orang di Bina Antarbudaya:
Chapter
Karawang

Sending Story: Expedisi Adik Miftah di Belgium

Wilujeng sumping, kumaha damang?

Goedemorgen, hoe gaat het?

Sebelumnya nama saya Miftah Jannah, Miftah, saya berumur 17 tahun dan sekarang sedang menjalani program pertukaran pelajar AFS di sebuah negara di Eropa yang dikenal sebagai ibukota Uni Eropa dan juga negara waffle, Belgia. Alhamdulillah setelah menjalani proses seleksi AFS yang cukup panjang akhirnya saya sekarang bisa berbagi sedikit pengalaman yang saya alami selama tinggal 5 bulan disini.

Tanggal 21 Agustus 2015 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Belgia. 3 hari pertama kami langsung menjalani arrival camp bersama seluruh siswa pertukaran pelajar di Belgium Flanders dari seluruh dunia. Itu adalah kali pertama saya mendapatkan Culture Shock. Kurang lebih 150 siswa dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu tempat selama 3 hari. Di hari itu juga saya diperkenalkan kepada keluarga baru saya yang berasal dari Mexico, Italia, Brasil, Jepang, Thailand, Paraguay, Dominican Republic, Russia, dan Turki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanggal 23 Agustus 2015 kami dibawa ke hostfamily kami masing masing. Sebelum dipersembahkan ke hostfamily kami masing-masing, kami harus menari didepan mereka dan memperkenalkan diri dalam Bahasa Belanda. Saya masih ingat jelas perasaan saya waktu itu, dan percakapan saya dengan siswa-siswa lain yang sangat gugup. “Oh no, I can’t do this. They’re going to hate me!” “I’m too nervous I’m going to die, Lord please help.” Adalah sedikit contoh dari percakapan kami haha. Tapi, saat saya masuk kedalam ruangan dan melihat hostfamily saya untuk pertama kalinya, dan melihat mereka tersenyum dan melambaikan tangan ke arah saya, seketika rasa gugup itu hilang.

Tanggal 1 September 2015 adalah hari pertama saya masuk sekolah. Counselor saya menemani saya di sekolah sampai pukul 9 pagi untuk memperkenalkan saya ke sekolah. Saya bersekolah di Koninklijk Atheneum Tongeren. Di hari pertama saya, saya dipertemukan oleh 2 orang returnee AFS Italy yang kebetulan satu angkatan dengan saya.

Oh ya, saya tinggal di sebuah kota kecil bernama Tongeren di provinsi Limburg. Tongeren ini adalah kota tertua di Belgia, bahkan konon kota ini lebih tua daripada negara Belgia itu sendiri. Tongeren terletak di bagian selatan provinsi Limburg jadi sangat dekat dengan Maastricht, Belanda dan juga dengan Belgium-French. Maka dari itu banyak sekali teman saya di sekolah yang berasal dari Maastricht dan dari Belgium-French yang bahasa aslinya adalah Bahasa Perancis. Kebayang kan serunya?

Setelah beberapa minggu bersekolah di Atheneum, saya melakukan presentasi bersama Conselour saya, dan 3 orang returnee, di 3 sekolah di Tongeren tentang Indonesia dan AFS. Rasanya sangat bangga bisa memperkenalkan negara kita dan membuat mereka kagum dan tertarik dengan negara Indonesia yang tadinya bahkan mereka tidak pernah dengar namanya.

So Miftah, you’re from Indonesia. I’ve never heard of Indonesia.” “Well, have you ever heard of Bali?” “Of course, Bali is famous and it’s so pretty. But it’s in India. Why?” Banyak sekali orang yang mengira bahwa Bali terletak di India. Atau mengira bahwa Indonesia terletak di Bali. Bahkan ada juga yang bertanya adakah yang menjual apple products atau apakah ada Starbucks di Indonesia.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia di kelas Bahasa Belanda, dan juga mengajarkan Bahasa Belanda ke hostfamily saya. Dan mereka tertarik! Karena memang bahasa kita ini sangat unik dibanding bahasa-bahasa lain. Memperkenalkan makanan Indonesia juga tidak kalah menariknya. Dari nasi goreng, pisang goreng, risoles, sate ayam, dan lain-lain.

Saya juga merasa sangat beruntung mendapatkan hostparents  dan 3 hostsisters yang sangat amat baik, penyayang dan selalu mendukung saya dalam hal apapun yang baik. Mereka memperkenalkan saya ke banyak kultur. Membawa saya kebanyak tempat, bahkan London. Mereka selalu ada saat saya merasa down entah apapun alasannya. Mengurus saya saat sakit. Menjemput saya waktu saya salah bis dan terdampar in the middle of nowhere, literally, twice. Dan yang paling penting, menganggap saya sebagai bagian dari keluarga mereka. Alhamdulillah, walaupun saya termasuk terlambat dalam mendapat hostfamily tapi saya merasa saya mendapatkan hostfamily yang terbaik. So shout out to the Nassen-Withofs family!

 

 

Saya merasa sangat bersyukur dapat menjalani program ini. Bisa mendapat banyak pengalaman, dan juga keluarga. Bukan hanya pengalaman saja, tapi saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal diri saya sendiri lebih jauh. Apa kekurangan saya, kelebihan saya, orang seperti apa saya ini, dan lain-lain. Tinggal jauh dari keluarga dan negara tempat saya dilahirkan dan dibesarkan juga membuat saya sadar bahwa mereka benar-benar berpengaruh dalam hidup saya. Beberapa tahun lalu, saya cuma bisa membaca pengalaman-pengalaman kakak-kakak returnee dalam blog-blog seperti yang saya sedang tulis ini. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa saya sekarang sudah menjalani program ini selama 5 bulan.

Memang sebelum saya mendaftarkan diri saya, saya sempat terpikir apakah saya sanggup mengikuti seleksi yang sangat banyak saingannya dan jelas mereka pintar-pintar, bertalenta, dan lebih percaya diri. Tapi saya pikir apa salahnya mencoba, dan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saya tidak mungkin berada disini sekarang kalau bukan karena Allah, orang tua, teman, dan juga volunteers. So, shout out to the volunteers too!

Jadi kesimpulannya adalah, keputusan saya untuk membeli pin seharga Rp 50.000,- dan mendaftarkan diri saya kurang lebih 2 tahun lalu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. For real, though. Jadi buat adik-adik yang khususnya berada di kelas 10 SMA dan sederajat, silahkan dipikir untuk mendaftarkan diri. Tidak ada salahnya mencoba, toh ini kesempatan sekali dalam seumur hidup. En, veel success eideren!

“Unless you puke, faint, or die, keep going.” 

 

Bina Antarbudaya yang juga dikenal sebagai mitra

Relawan Bina Antarbudaya mengkontribusikan waktu, tenaga dan pengetahuan yang dimiliki, karena mereka…Bina Antarbudaya yang juga dikenal sebagai mitra utama AFS Intercultural Programs di Indonesia, merupakan organisasi berbasis relawan, dimana servis dan

Kak Anies Baswedan

Siapa tidak kenal tokoh satu ini, namanya mencuat berkat prestasi yang luar biasa dan dianugerahkan sebagai Rektor Termuda di Indonesia. Ya, tokoh tersebut adalah Anies Baswedan. Pria kelahiran 7 Mei 1969 tersebut dikenal sebagai tokoh intelektual muda Indonesia yang namanya sudah mendunia dan berwawasan global. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan, di antaranya dengan mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia.

Yolanda R. Armindya

“Pengalaman saya menjadi relawan di Yayasan Bina Antarbudaya tidak saya dapat di tempat lain”