Testimonial

Aam Bustaman - AFS YP 1983/1984

“Saya yakin, semangat yang kita bawa dari program AFS bisa memupuk Indonesia yang majemuk, rukun, dan sentosa. Dengan cara itu, kita dapat secara bersama-sama berkontribusi pada perdamaian dunia.”

Ajeng Ratmawati - KL-YES YP 2013/2014

“Menurut saya pelajaran hidup dan hadiah terbesar atas keberanian saya untuk mendaftar program pertukaran pelajar adalah saya bisa menjadi pribadi yang lebih berpikiran terbuka dan menyadari betapa indahnya dunia jika kita saling toleransi. Tidak saling menghakimi dan percaya bahwa dunia ini indah karena adanya kemajemukan. Seperti pelangi, komponen warna yang berbeda-beda bisa bersatu-padu dan membentuknya menjadi indah. Itu yang selalu saya coba ajarkan ke murid saya di sekolah tempat saya mengajar. Rasa untuk saling menghargai, toleransi dan open-minded. Tidak ada yang paling benar dan paling salah di dunia ini, yang ada hanyalah berbeda.”

Muhammad Izzas Ferdiansyah - AFS - YP 2016/2017

“Kecemasan yang melanda diriku sebelum berangkat ke Belgia, ternyata berakhir dengan bahagia. Aku punya banyak teman yang menerimaku apa adanya, yang melindungiku ketika kami pergi bersama-sama, dan yang menaruh ketertarikan besar terhadap Indonesia. Lebih dari itu, aku juga memiliki hal yang mengajariku arti penting dari keberterimaan dan menghargai perbedaan. Dan pastinya, keikutsertaanku pada kegiatan volunter di Belgia semakin mendorongku untuk terus menjadi aktif.”

Nurul Lastriana - KL-YES YP 2017/2018

“Saya mengalami begitu banyak hal selama tahun pertukaran saya, dan waktu yang saya habiskan bersama Bethany (salah seorang teman karib saat exchange) adalah waktu yang tidak akan pernah saya lupakan. Dengan menulis cerita ini, saya ingin semua orang tahu bahwa di luar sana masih ada orang-orang yang menerima perbedaan dengan tangan terbuka, dan mereka sangat banyak. Namun, kalau datang waktu di mana kita tidak dapat menemukan lagi orang-orang yang baik, seperti Bethany dan keluarganya, kita selalu memiliki pilihan untuk menjadi orang yang baik kepada orang lain, tak peduli siapa.”

Abdul Nur Adnan - AFS YP 1958/1959

“Mengikuti program AFS itu besar sekali artinya bagi peningkatan rasa toleransi dan percaya diri saya. Setelah pulang, bahasa Inggris saya juga berkembang. Bahasa itu pula yang membuka jalan bagi saya untuk terjun di bidang jurnalistik di Yogyakarta
dan akhirnya di Amerika. Pada 1967, tak banyak orang yang menguasai bahasa Inggris. Memiliki kemampuan tersebut adalah satu “kemenangan” besar yang saya alami. Saya, yang waktu itu menjadi wartawan lokal, memberanikan diri datang ke Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Saya iseng saja masuk menemui atase pers, kemudian bertanya tentang kemungkinan ke Jerman untuk melihat-lihat negara mereka. Karena dia tahu saya bisa bahasa Inggris, dia langsung mengiyakan, dan saya dikirim untuk melakukan tur jurnalistik di Jerman selama dua pekan.”

Imam Buchori Zainuddin - AFS YP 1959/1960

Semua pencapaian di atas takkan mungkin aku gapai tanpa spirit self-motivation dan self-eficacy yang sedikit banyaknya tertular dari keluarga Reinhardt, juga pengalaman di Berkeley HI yang menempa kepercayaan diriku. Sesuatu yang selalu terngiang-ngiang dalam benak pikiranku ketika melakukan sesuatu sepulang dari program AFS.