National Symposium
70 Tahun Antarbudaya AFS
“Soroti Pentingnya Pendidikan Karakter dan Antarbudaya bagi Generasi Masa Depan”
Dalam rangka memperingati 70 tahun perjalanan Yayasan Bina Antarbudaya sebagai organisasi pendidikan dan pembelajaran antarbudaya di Indonesia, diselenggarakan Hybrid National Symposium 70th Antarbudaya AFS bertema “Shaping Global Future Leaders with Character: Intercultural Education for Brighter Future” pada Jumat (22/5) di Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh dari sektor pendidikan, pemerintahan, organisasi sosial, akademisi, serta praktisi pengembangan generasi muda untuk membahas tantangan pendidikan di era dunia yang semakin terhubung dan kompleks. Simposium menjadi ruang dialog mengenai pentingnya pendidikan karakter dan pengalaman antarbudaya dalam membentuk generasi muda Indonesia yang unggul secara akademik, berempati, mampu berkolaborasi, dan memiliki perspektif global.
“Menjadi warga global tanpa kehilangan jati diri sebagai Indonesia adalah kekuatan generasi masa depan yang dibangun melalui pendidikan antarbudaya.” Ujar Prof Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, Asmir Agoes, menegaskan bahwa perjalanan 70 tahun organisasi merupakan bagian dari upaya panjang membangun Pemimpin Masa Depan yang mengangkat harkat, martabat, kecerdasan serta kesejahteraan bangsa Indonesia dan umat manusia. Usaha dijalankan melalui peran serta yang berkepemimpinan dalam pengembangan karakter, etos dan sistem kerja yang unggul, pertukaran siswa, serta pemberian beasiswa bagi mereka yang tidak mampu, terutama bagi mereka yang berpotensi menjadi pemimpin masa depan.


Pandangan tersebut juga disuarakan dengan tantangan global yang dihadapi generasi muda saat ini. Executive Director Yayasan Bina Antarbudaya, Gatot Nuradi Sam, yang menyampaikan bahwa pendidikan perlu memberi ruang lebih besar bagi pembentukan karakter dan kompetensi sosial.
Dari sisi pemerintah, Rita Pranawati selaku Staf Khusus Mendikdasmen RI menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang berintegritas, berempati, dan memiliki kepedulian sosial. “Pendidikan antarbudaya dinilai menjadi salah satu ruang belajar yang relevan untuk membangun karakter tersebut”Ujar Rita.


Sebagai bagian dari perayaan 70 tahun, simposium ini juga menjadi momentum refleksi pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia. Ketua Panitia 70 Tahun Antarbudaya AFS, Sinta Kaniawati, menyampaikan bahwa perayaan ini bukan hanya tentang perjalanan organisasi, tetapi juga tentang menyiapkan generasi muda agar mampu menjadi warga dunia tanpa kehilangan nilai kemanusiaan, toleransi, dan semangat kolaborasi.

Melalui National Symposium ini, Yayasan Bina Antarbudaya berharap dapat terus mendorong kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter dan pembelajaran antarbudaya sebagai fondasi terciptanya masyarakat yang lebih inklusif, damai, dan berkelanjutan di masa depan.

